Artikel Rumah Sakit
|
|
Oleh: Prof. DR. Dr. Heru Sundaru, Sp.PD,
KAI
Jangan
pernah menyepelekan penyakit lingkup alergi dan imunologi. Seluruh tubuh
merasa nyeri atau sesak napas. Jangan pula merasa tidak terjadi apa-apa jika
tiba-tiba hidung gatal, tersumbat, kulit melepuh serta akhirnya menimbulkan
kematian. Itu semua merupakan bagian kecil dari gejala penyakit-penyakit
alergi dan imunologi.
Jenis
penyakit alergi dan imunologi sangat beragam. Asma merupakan kasus yang
relatif paling sering, diikuti rinitis alergi, dan urtikaria kronik. Jenis
alergi lain yang tak kalah pentingnya adalah reaksi alergi obat. Sementara
dalam bidang imunologi, terdapat penyakit autoimun, khususnya Lupus
Eritematosis Sistemik (LES).
Sementara
dari penyakit imunodefisiensi, salah satunya yang terkenal adalah penyakit
Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). Dalam artikel ini juga akan
dikemukakan pentingnya imunisasi pada orang dewasa.
Penyakit Alergi
Berikut
beberapa penyakit dalam lingkup alergi:
1. Asma Bronkial
Masalah
utama asma adalah sering tak terdiagnosis atau pengobatan tak adekuat.
Pasien mengobati sendiri, pemahaman dan pengetahuan mengenai asma yang kurang
serta beberapa mitos atau salah persepsi mengenai asma.
Tak
jarang dijumpai rasa sesak disangka penyakit jantung, atau batuk-batuk kronis
yang disebabkan penyakit bronkitis atau sukar tidur karena insomnia. Keluhan
batuk mengi atau sesak saja bukan monopoli penyakit asma. Beberapa penyakit
atau keadaan dapat menyerupai asma, seperti Penyakit Paru Obstruktif Kronik
(PPOK) bronkitis kronik dan emfisema; infeksi paru; sinusitis paranasal;
tuberkulosis; refluks gastroesofageal dan penyakit jantung seperti gagal
jantung. Diagnosis tepat mengarahkan pengobatan yang tepat.
Dalam
praktiknya sering dijumpai pasien mengobati dirinya sendiri. Mereka
menggunakan obat semprot pelega (inhaler) untuk mengatasi gejala asmanya.
Dalam jangka panjang, kondisi ini justru akan memperburuk gejala asma dan
akan makin sering mendapat serangan asma.
Hal
yang perlu dilakukan adalah dengan memberikan penderita obat anti inflamasi,
menghindari faktor pencetus serangan, dan mendapatkan edukasi. Edukasi
bertujuan agar pemahaman dan pengetahuan pasien mengenai asma dan penyebabnya
menjadi lebih baik. Pengetahuan inilah yang akan mempermudah komunikasi
dengan dokter, dan memahami mitos-mitos yang berkembang di masyarakat.
Beberapa
mitos yang dijumpai di masyarakat, diantaranya, obat semprot berbahaya untuk
jantung, dan hanya dipakai untuk asma yang berat. Pemakaian obat asma secara
teratur akan menyebabkan kecanduan (adiksi). Mitos-mitos itu tidak benar.
Apakah
asma bisa sembuh? Sejujurnya, tak ada obat yang dapat menyembuhkan asma.
Dengan diagnosis dan pengobatan yang tepat penderita asma dapat menjalani
hidup dengan normal (pasien harus mematuhi instruksi, dan kontrol dokter. Ia
pun wajib memakai obat pengontrol secara teratur. Jangan pergi ke
dokter saat asma menyerang
saja).
Mitos
lainnya yang juga tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya
adalah: mengobati asma jika muncul gejala saja. Asma akan hilang dengan
sendirinya menjelang dewasa. Penderita asma masih boleh merokok. Stress
penyebab asma. Penderita asma tak boleh berolah raga, dan
lain-lain.
Layaknya
penyakit hipertensi, atau diabetes tak dapat disembuhkan, manajemen penyakit
asma saat ini berdasarkan Kontrol Asma. Panduan manajemen asma internasional
berdasarkan Global Initiative for Asthma (GINA) menekankan pentingnya
kontrol asma. Sekali asma terkontrol, kecil kemungkinan untuk mendapat
serangan asma, apalagi sampai memerlukan perawatan rumah sakit. Meskipun
panduan GINA tersebut telah diedarkan secara luas, kenyataannya, sebagian
besar pasien asma belum atau bahkan tidak terkontrol. Oleh karenanya peran
dokter yang mengobati asma sangat penting dalam memberikan edukasi kepada
pasien. Tak hanya itu. Dokter pun memberikan pengobatan yang profesional
sehingga pasien dapat secara optimal menikmati hidupnya.
2. Rinitis Alergi
Rinitis
alergi merupakan salah satu bentuk rinitis yang mekanismenya secara umum
melalui sistem imun, atau IgE secara khusus. Prevalensinya berkisar
antara 10-15% dari masyarakat. Penderitanya pun beragam, mulai dari usia
anak hingga dewasa. Gejalanya dapat berupa rinorea, hidung gatal, bersin dan
hidung tersumbat. Terkadang disertai rasa gatal di mata. Akibatnya,
mengganggu kualitas hidup penderitanya. Seperti, gangguan tidur, gangguan
aktivitas, hingga absen dari sekolah atau pekerjaan. Berdasarkan lama dan
seringnya gejala rinitis dapat diklasifikasikan sebagai rinitis alergi
intermiten atau persisten. Dikatakan rinitis intermiten bila gejala
berlangsung kurang dari empat hari per minggu dan lamanya kurang dari empat
minggu. Sedangkan rinitis persisten gejala berlangsung lebih dari empat hari/
minggu dan lamanya lebih dari empat minggu. Derajatnya dikatakan sedang atau
berat bila gejalanya menggangu kualitas hidup penderitanya. Yang perlu diwaspadai
adalah komplikasi terjadinya sinusitis, polip hidung, dan gangguan
pendengaran.
Rinitis
alergi merupakan salah satu faktor risiko terjadinya asma. Sering pasien baru
datang ke dokter jika telah terjadi komplikasi. Dengan pengobatan yang baik,
gejala rinitis dapat terkontrol. Sehingga kualitas hidup penderitanya
meningkat kembali dan menjalani hidup layaknya orang normal.
3. Alergi Obat
Seiring
pertumbuhan obat-obat baru untuk tujuan diagnosis, terapi, dan pencegahan
penyakit maka terjadinya reaksi simpang obat pun meningkat. Reaksi simpang
obat didefinisikan sebagai respons yang tidak diinginkan pada pemberian obat
dalam dosis terapi, diagnosis, dan profilaksis. Reaksi alergi obat adalah
reaksi simpang obat yang mekanismenya melalui reaksi imunologis. Kejadian
reaksi alergi obat diperkirakan 6-10% dari reaksi simpang obat. Dalam praktek
tidak mudah menentukan sistem imun terlibat. Banyak kejadian yang gejalanya
mirip atau serupa dengan gejala alergi, tetapi mekanismenya bukan alergi
seperti sesak napas atau angioderma karena aspirin atau anti inflamasi non
steroid (AINS), maka diperkenalkan istilah hipersensitivitas
obat.
Alergi
obat perlu dipahami oleh tenaga kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan
pemberian obat. Hal ini terkait dengan masalah mediko-legal, terutama bila
kejadiannya dianggap merugikan pasien, sehingga pasien atau keluarganya dapat
menuntut dokter, petugas kesehatan lain atau rumah sakit.
Gejala
alergi obat sangat bervariasi. Gejala paling sering adalah gejala kulit,
mulai dari eritema, urtikaria, pruritus, angioedema, vesikula, bula hingga
kulit melepuh. Gejala lain yang lebih jarang, misalnya sesak nafas, pusing
hingga pingsan, seperti pada anafilaksis. Dapat juga terjadi anemia, gangguan
fungsi hati atau ginjal.
Komplikasi
alergi obat yang paling berbahaya adalah anafilaksis, disusul dengan Steven
Johnson Syndrome, nekrosis epidermal toksik, dan Drug Rash Eosinophilia and
Systemic Symptoms (DRESS).
Klinik
Alergi RS Medistra memberikan pelayanan penyuluhan bagi pasien untuk
menghindari terjadinya reaksi alergi obat di masa mendatang, mengobati reaksi
alergi obat yang terjadi, dan uji diagnosis alergi obat.
Tes
Kulit. Sebenarnya hanya sedikit jenis obat yang dapat dipakai untuk tes
kulit. Hal ini dikarenakan obat setelah masuk ke dalam tubuh akan mengalami
metabolisme. Hasil metabolisme atau metabolit umumnya belum diketahui kecuali
penisilin. Selanjutnya metabolit akan berikatan dengan protein tubuh, untuk
kemudian menimbulkan reaksi alergi.
Tes
kulit obat-obat lainnya belum pernah divalidasi, sehingga hasilnya kurang
dapat dipercaya. Sebagai contoh, hasil tes kulit terhadap cefalosporin
negatif tetapi sewaktu diberikan, pasien mengalami anafilaksis. Ada dua jenis tes kulit
untuk alergi obat, yaitu tes tusuk, dan intra kutan untuk reaksi alergi obat
fase cepat dan tes tempel untuk reaksi alergi obat fase lambat. Tetapi
kembali lagi kedua tes di atas tidak dapat dipercaya sepenuhnya.
Tes
Provokasi Obat. Tes ini merupakan baku
emas untuk menentukan adanya reaksi alergi obat. Karena dapat menyebabkan
reaksi yang serius, tes ini hanya boleh dilakukan oleh dokter yang ahli dalam
bidang ini dan dilakukan di rumah sakit.
Tes
Laboratorium. Sampai sejauh ini baru dalam tahap penelitian dan hanya
terhadap obat yang terbatas. Seperti halnya tes lain, tes invitro ini lebih
spesifik tetapi tidak sensitif. Sehingga banyak negatif palsu. Yang paling
penting dalam reaksi alergi obat adalah pencegahan. Jadi dalam memberikan
obat indikasi pemberian harus tepat, kemudian dipastikan tidak pernah
mengalami reaksi alergi obat yang akan diberikan. Selanjutnya selalu waspada
dan siap bertindak bila terjadi alergi obat.
4. Urtikaria dan Angioderma
Urtikaria
ditandai kelainan kulit berupa bentol, kemerahan, dan gatal. Dikatakan
urtikaria akut jika gejala berlangsung kurang dari enam minggu dan sebabnya
jelas. Sedangkan urtikaria kronik jika gejala berlangsung lebih dari enam
minggu, bahkan bisa sampai 20 tahun. Umumnya pasien yang datang ke poli
alergi adalah urtikaria
kronik.
Umumnya
pasien telah lama berobat ke berbagai dokter baik umum maupun spesialis,
sehingga pasien merasa jengkel karena urtikarianya tidak sembuh-sembuh.
Sebagian besar urtikaria kronik penyebabnya tidak diketahui sehingga
pengobatan bisa berlangsung lama. Bila sebabnya diketahui, mungkin gejalanya
dapat dihilangkan. Angioderma menyerupai urtikaria, tetapi mengenai jaringan
kulit yang lebih dalam. Gejala sering tidak gatal tetapi terasa sakit.
Umumnya mengenai mukosa mata, bibir atau kemaluan. Bila mengenai daerah
trakea atau bronkus, seperti pada reaksi anafilaksis dapat membahayakan nyawa
pasien.
5. Lupus Eritematosus Sistemik (LES)
LES
merupakan salah satu penyakit autoimun. Karena bersifat sistemik,
auto-antibodi menyerang beberapa organ, baik secara bersamaan atau berurutan.
Radang sendi merupakan gejala yang tersering, tetapi demam yang
berkepanjangan juga merupakan salah satu gejala lupus. Gejala seperti kemerahan
di wajah, sariawan, anemia, lekopeni atau trambositopeni merupakan petunjuk
ke arah LES. Proteinuria dan hematuria sampai kepada efusi pleura atau
perikard tidak jarang dijumpai. Kelainan neorologi atau psikitrik dapat
disebabkan LES. Makin dini diagnosis, dan makin cepat diobati, diharapkan
komplikasi yang serius dapat dihindari.
6. Penyakit Imunodefisiensi
Penyakit
imunodefisiensi bisa didapat sejak lahir, atau setelah dewasa. Berbagai
penyakit atau keadaan seperti pemakaian obat dapat menyebabkan imunodefisiensi.
Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan salah satu penyebab
imunodefisiensi yang dikenal dengan AIDS. Umumnya pasien datang dalam keadaan
sudah lanjut karena infeksi oportunistik, padahal semakin awal penyakit
diketahui dan diobati semakin baik prognosisnya. Penyakit-penyakit kronis
lainnya seperti diabetes mellitus, gagal ginjal kronis, sirosis hati, dan
PPOK dapat menurunkan daya tahan tubuh. Oleh karena itu, meningkatkan daya
tahan tubuh sangat diperlukan, agar terhindar dari bahaya penyakit infeksi.
Imunisasi Dewasa
Imunisasi
merupakan salah satu cara pencegahan penyakit yang paling efektif, contohnya
penyakit cacar (variola) telah lama hilang dari muka bumi, sedangkan
kasus-kasus polio dalam beberapa tahun terakhir tidak pernah dijumpai lagi.
Program imunisasi selama ini diwajibkan untuk anak, dan hasilnya sangat
memuaskan.
Pertanyaan
mengapa orang dewasa memerlukan vaksinasi, jawabannya adalah imunisasi dapat
menurunkan kejadian sakit, perawatan rumah sakit atau meninggal dunia karena
penyakit-penyakit infeksi. Pemberian vaksin influenza pada orang dewasa usia
< 65 tahun menurunkan insidensi influenza sebesar 70-90%, pada orang usia
lanjut menyebabkan penurunan insidensi kasus influenza 30-40%, perawatan
rumah sakit 50-60% dan penurunan angka kematian sebesar 70-100%. Vaksin
pneumokok efektivitasnya sekitar 60-64%, hepatitis B 80-95%, dan MMR
90-95%.
Keberhasilan
imunisasi menyebabkan biaya pengobatan dan perawatan rumah sakit menjadi
lebih hemat. Peranan imunisasi sama pentingnya dengan olahraga dan diet
dalam menjaga kesehatan tetapi sering dilupakan. Jenis vaksin yang di
rekomendasikan orang dewasa antara lain influenza, pneumokok (infeksi paru),
varicella, human papiloma virus (untuk mencegah kanker leher rahim),
hepatitis A & B, dan Measles, Mumps and Rubella (MMR), serta tetanus,
difteri & pertusis (TDaP).
Siapa
saja yang perlu mendapat imunisasi? Tentu saja imunisasi direkomendasikan
kepada semua orang dewasa, tetapi khususnya kepada orang-orang yang berisiko
seperti orang-orang lanjut usia, pasien imunodefisiensi, penyakit paru
kronis, penyakit jantung, diabetes dan penyakit ginjal kronis. Meskipun telah
banyak manfaat imunisasi disampaikan, ternyata hanya sedikit orang yang
menyadarinya, apalagi melakukannya. Demikianlah ulasan selayang pandang
tentang layanan pada Klinik Asma, Alergi, dan Imunologi di RS Medistra,
semoga dapat menambah wawasan pembaca.
|
ASUHAN KEPERAWATAN URTIKARIA
A. ANATOMI
FISIOLOGI KULIT
v KULIT
ü Kulit merupakan sistem tubuh yang paling luas
ü Kulit adalah lapisan jaringan yang terdapat pada
bagian luar, menutupi dan melindungi permukaan tubuh.
ü Pada permukaan kulit bermuara kelenjar dan
kelenjar mukosa
ü Alat tubuh yang terberat : 15 % dari berat badan.
ü Luas : 1,50 – 1,75 m.
ü Tebal rata – rata : 1,22mm.
ü Daerah yang paling tebal : 66 mm, pada telapak tangan dan t. kaki dan
paling tipis : 0,5 mm.pada daerah penis.
v LAPISAN KULIT
KULIT TERBAGI MENJADI 3 LAPISAN:
1. EPIDERMIS
Terbagi atas 4 lapisan:
a. Lapisan basal / stratum germinativum
1. EPIDERMIS
Terbagi atas 4 lapisan:
a. Lapisan basal / stratum germinativum
·
terdiri dari sel – sel kuboid
yang tegak lurus terhadap dermis.
·
Tersusun sebagai tiang pagar
atau palisade.
·
Lapisan terbawah dari
epidermis.
·
Terdapat melanosit yaitu sel
dendritik yang yang membentuk melanin( melindungi kulit dari sinar matahari.
b. lap. Malpighi/ stratum spinosum.
·
Lapisan epidermis yang paling
tebal.
·
Terdiri dari sel polygonal
·
Sel – sel mempunyai
protoplasma yang menonjol yang terlihat seperti duri.
c. lap. Granular / s. granulosum.
1.
Terdiri dari butir – butir
granul keratohialinyang basofilik.
d. lapsan tanduk / korneum.
1. Terdiri dari 20 – 25 lapis sel tanduk
tanpa inti.
Setiap kulit yang mati banyak mengandung keratin
yaitu protein fibrous insoluble yang membentuk barier terluar kulit yang
berfungsi:
1.
Mengusir mikroorganisme
patogen.
2.
Mencegah kehilangan cairan
yang berlebihan dari tubuh.
3.
Unsure utam yang mengerskan
rambut dan kuku.
Setiap kulit yang mati akan terganti tiap 3- 4 minggu. Dalam epidermis terdapat 2 sel yaitu :
1. Sel merkel.
Fungsinya belum dipahami dengan jelastapi diyakini berperan dalam pembentukan kalus dan klavus pada tangan dan kaki.
2. Sel langerhans.
Berperan dalam respon – respon antigen kutaneus.
Epidermis akan bertambah tebal jika bagian tersebut sering digunakan.
Persambungan antara epidermis dan dermis di sebut rete ridge yang berfunfgsi sebagai tempat pertukaran nutrisi yang essensial. Dan terdapat kerutan yang disebut fingers prints.
2. DERMIS.( korium)
·
merupakan lapisan dibawah
epidermis.
·
Terdiri dari jaringan ikat
yang terdiri dari 2 lapisan:pars papilaris.( terdiri dari sel fibroblast yang
memproduksi kolagen DAN Retikularis YG Terdapat banyak p. darah , limfe, dan
akar rambut, kelenjar kerngat dan k. sebaseus.
3. JARINGAN SUBKUTAN ATAU HIPODERMIS / SUBCUTIS.
· Lapisan terdalam yang banyak mengandung sel
liposit yang menghasilkan banyak lemak.
· Merupakn jaringan adipose sebagai bantalan antara
kulit dan setruktur internal seperti otot dan tulang.
· Sebagai mobilitas kulit, perubahan kontur tubuh
dan penyekatan panas.
· Sebagai bantalan terhadap trauma.
·
Tempat penumpukan energi.
KELENJAR – KELENJAR PADA KULIT
KELENJAR – KELENJAR PADA KULIT
1. Kelenjar Sebasea
berfungsi mengontrol sekresi minyak ke dalam ruang antara folikel rambut dan batang rambut yang akan melumasi rambut sehingga menjadi halus lentur dan lunak.
2. Kelenjar keringat
diklasifikasikan menjadi 2 kategori:
a. kelenjar Ekrin terdapat disemua kulit.
Melepaskan keringat sebgai reaksi penngkatan suhu lingkungan dan suhu tubuh.
Kecepatan sekresi keringat dikendalkan oleh saraf simpatik.pengekuaran keringat oada tangan, kaki, aksila, dahi, sebagai reaksi tubuh terhadap setress, nyeri dll.
b. kelenjar Apokrin.
Terdapat di aksil, anus, skrotum, labia mayora, dan berm,uara pada folkel rambut.
Kelenjar ininaktif pada masa pubertas,pada wanit a akan membesar dan berkurang pada sklus haid. K.Apokrin memproduksi keringat yang keruh seperti susu yang diuraikan oleh bajkteri menghasilkan bau khas pada aksila. Pada telinga bagian luar terdapat kelenjar apokrin khusus yang disebut K. seruminosa yang menghasilkan serumen(wax).
berfungsi mengontrol sekresi minyak ke dalam ruang antara folikel rambut dan batang rambut yang akan melumasi rambut sehingga menjadi halus lentur dan lunak.
2. Kelenjar keringat
diklasifikasikan menjadi 2 kategori:
a. kelenjar Ekrin terdapat disemua kulit.
Melepaskan keringat sebgai reaksi penngkatan suhu lingkungan dan suhu tubuh.
Kecepatan sekresi keringat dikendalkan oleh saraf simpatik.pengekuaran keringat oada tangan, kaki, aksila, dahi, sebagai reaksi tubuh terhadap setress, nyeri dll.
b. kelenjar Apokrin.
Terdapat di aksil, anus, skrotum, labia mayora, dan berm,uara pada folkel rambut.
Kelenjar ininaktif pada masa pubertas,pada wanit a akan membesar dan berkurang pada sklus haid. K.Apokrin memproduksi keringat yang keruh seperti susu yang diuraikan oleh bajkteri menghasilkan bau khas pada aksila. Pada telinga bagian luar terdapat kelenjar apokrin khusus yang disebut K. seruminosa yang menghasilkan serumen(wax).
v
PELENGKAP
KULIT
1. RAMBUT
·
LANUGO rambut halus tak
berpigmen terdppt pada bayi.
·
RANBUT TERMINAL padao rang dewasa banyak mengandung pigmen,
kasar. Terdpt di kepala, bulu mata, alis, kumis, pubis, janggut dan
pertumbuhanya dipengaruhi oleh hormon androgen ( hormon seks).
·
VELUS rambut halus di dahi
dan badan lain.
·
Rambut tumbuh dari folikel
rambut didalam epidermis.
·
Folikel rambut dibatasi
oleh epidermis sebelah atas
·
Dasarnya terdapat papil
tempat rambut tumbuh
·
Akar rambut berada dlm
folikel pada ujung paling dalam
·
Bagian sebelah luar
disebut batang rambut
·
Pada folikel rambut
terdapat otot polos kecil sbg penegak rambut
2. KUKU
· Kuku adalah sel epidermis kulit-kulit yang telah berubah tertanamdalam
palung kuku menurut garis lekukan pada
kulit.
·
Palung kuku mendapat
persarafan dan pembuluh darah yg banyak
·
Bagian kuku: ujung kuku
atas ujung batas, badan kuku yg mrpkan bagian yang besar, akar kuku/ radik
3. KELENJAR KULIT
·
Kelenjar kulit mempunyai
lobulus yang bergulung-gulung dengan
saluran keluar lurus merupakan jalan untuk mengeluarkan berbagai zat dari badan (Kelenjar keringat).
v
FUNGSI KULIT
·
Melindungi tubuh terhadap
luka, mekanis, kimia dan termis karena epitelnya dengan bantuan sekret kelenjar
memberikan perlindungan terhadap kulit.
·
Perlindungan terhadap
mikro organisme patogen
·
Mempertahankan suhu tubuh
dengan pertolongan sirkulasi darah
·
Mengatur keseimbangan
cairan melalui sirkulasi kelenjar.
·
Alat indera melalui
persarafan sensorik dan tekanan temperatur dan nyeri.
·
Sbg alat rangsangan rasa
yg datang dr luar yg dibawa oleh saraf sensorik dan motorik keotak.
B. PENGERTIAN
Urtikaria adalah reaksi dari
pembuluh darah berupa erupsi pada kulit yang berbatas tegas dan menimbul (bentol), berwarna merah, memutih bila ditekan, dan disertai rasa
gatal. Urtikaria dapat berlangsung secara akut,
kronik, atau berulang. Urtikaria akut umumnya berlangsung 20 menit sampai 3 jam, menghilang dan mungkin muncul di bagian kulit lain. Satu episode
akut umumnya berlangsung 24-48 jam.
Pengertian Urtikaria adalah lesi di
kulit yang ditandai khas dengan urtika. Pengertian urtikaria yang lain adalah
reaksi vaskular dari dermis yang ditandai dengan gambaran sementara dengan
bercak atau bejolan, lebih merah atau lebih pucat dari pada kulit disekitarnya
dan seringkali ditandai dengan gatal yang sangat hebat. Urtikaria sering
dikenal oleh orang awam dengan biduran
Sebenarnya macam dari urtikaria ini
sendiri sangat banyak, misalnya :
·
urtikaria karena tekanan
·
urtikaria karena dingin (udara)
·
urtikaria cahaya
·
urtikaria kontak (biasanya karena eksposure pekerjaan)
·
urtikaria idiopatik (tidak diketahui penyebabnya)
·
urtikaria kolinergik (karena gigitan serangga)
C. ETIOLOGI
Berdasarkan kasus-kasus yang ada, paling banak
urtikaria di sebabkan oleh alergi, baik alergi makanan, obat-obatan, dll.
· jenis makanan yang dapat menyebabakan
alergi misalnya: telur, ikan, kerang, coklat, jenis kacang tertentu, tomat,
tepung, terigu, daging sapi, udang, dll.
·
jenis obat-obatan yang
menimbulkan alergi biasanya penisilin, aspirin, bronide, serum, vaksin, dan
opium.
· bahan-bahan protein yang masuk melalui
hidung seperti serbuk kembang, jamur, debu dari bulu burung, debu rumah dan
ketombe binatang.
· Pengaruh cuaca yang terlalu dingin atau
panas,sinar matahari,tekanan atau air.
· Faktor psikologis pasien misalnya : Krisis
emosi
D. PATOFISIOLOGI
Patofisiologi
dari urtikaria ini sendiri mirip dengan reaksi hipersensifitas.
Pada awalnya alergen yang menempel pada kulit merangsang sel mast untuk membentuk antibodi IgE, setelah terbentuk, maka IgE berikatan dengan sel mast. Setelah itu, pada saat terpajan untuk yang kedua kalinya, maka alergen akan berikatan dengan igE yang sudah berikatan dengan sel mast sebelumbnya. Akibat dari ikatan tersebut, maka akan mengubah kestabilan dari isi sel mast yang mengakibatkan sel mast akan mengalami degranulasi dan pada akhirnya sel mast akan mengekuarkan histamin yang ada di dalamnya. Perlu diketahui bahwa sanya sel mast adalah mediator kimia yang dapat menyebabkan gejala yang terjadi pada seseorang yang mengalami urtikaria.
Pada awalnya alergen yang menempel pada kulit merangsang sel mast untuk membentuk antibodi IgE, setelah terbentuk, maka IgE berikatan dengan sel mast. Setelah itu, pada saat terpajan untuk yang kedua kalinya, maka alergen akan berikatan dengan igE yang sudah berikatan dengan sel mast sebelumbnya. Akibat dari ikatan tersebut, maka akan mengubah kestabilan dari isi sel mast yang mengakibatkan sel mast akan mengalami degranulasi dan pada akhirnya sel mast akan mengekuarkan histamin yang ada di dalamnya. Perlu diketahui bahwa sanya sel mast adalah mediator kimia yang dapat menyebabkan gejala yang terjadi pada seseorang yang mengalami urtikaria.
Pada urtikaria,
maka gejala yang akan terjadi dapat meliputi merah, gatal dan sedikit ada
benjolan pada permukaan kulit, yang menyebabkan hal itu terjadi yaitu, pada
dasarnya sel mast ini sendiri terletak didekat saraf perifer, dan pembuluh
darah. Kemerahan dan bengkak yang terjadi karena histamin yang dikeluarkan sel
mast itu menyerang pembuluh darah yang menyebabkan vasodilatasi dan peningkatan
permeabilitas. Gatal yang terjadi juga diakibatkan karena histamin menyentuh
saraf perifer.
E. TANDA DAN
GEJALA
1.
Timbulnya bintik-bintik merah
atau lebih pucat pada kulit. Bintik-bintik merah ini dapat mengalami edema
sehingga tampak seperti benjolan.
2.
Sering disertai rasa gatal
yang hebat dan suhu yang >panas pada sekitar benjolan tersebut.
3.
terjadi angioderma, dimana
edema luas ke dalam jaringan subkutan, terutama di sekitar mata, bibir dan di
dalam orofaring.
4.
adanya pembengkakan dapat
menghawatirkan, kadang-kadang bisa menutupi mata secara keseluruhan dan
mengganggu jalan udara untuk pernafasan.
F. TEST
DIAGNOSTIK
Pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan untuk
menyingkirkan diagnosis banding nya adalah :
·
Ig E test
·
ANA test
·
skin test
·
Pemeriksaan darah, urin, feses rutin
· Pemeriksaan
Histopatologik
·
Tes eleminasi makanan
·
Tes Provokasi
·
Tes Alergi
G. KOMPLIKASI
· Urtikaria
dan angiodema dapat menyebabkan rasa gatal yang menimbulkan ketidaknyamanan.
Urtikaria kronik juga menyebabkan stres psikologis dan sebaliknya sehingga
mempengaruhi kualitas hidup penderita seperti pada penderita penyakit jantung.
· Lesi-lesi
urtikaria bisa sembuh tanpa komplikasi. Namun pasien dengan gatal yang hebat
bisa menyebabkan purpura dan excoriasi yang bisa menjadi infeksi sekunder.
Penggunaan antihistamin bisa menyebabkan somnolens dan bibir kering. Pasien
dengan keadaan penyakit yang berat bisa mempengaruhi kualitas hidup.
H. KLASIFIKASI
1. URTIKARIA AKUT
Urtikaria akut hanya berlansung selama beberapa jam atau beberapa hari.
yang sering terjadi penyebabnya adalah:
1. adanya kontak dengan tumbuhan ( misalnya
jelatang ), bulu binatang/makanan.
2. akibat pencernaan makanan, terutama
kacang-kacangan, kerangan-kerangan dan strouberi.
3. akibat memakan obat misalnya aspirin dan
penisilin.
2. URTIKARIA KRONIS
Biasanya berlangsung beberapa minggu, beberapa bulan, atau beberapa tahun.
pada bentuk urtikaria ini jarang didapatkan adanya faktor penyebab tunggal.
3. URTIKARIA PIGMENTOSA
Yaitu suatu erupsi pada kulit berupa hiperpigmentasi yang berlangsung
sementara, kadang-kadang disertai pembengkakan dan rasa gatal.
4. URTIKARIA SISTEMIK ( PRURIGO SISTEMIK )
Adalah suatu bentuk prurigo yang sering kali terjadi pada bayi kelainan
khas berupa urtikaria popular yaitu urtikaria yang berbentuk popular-popular
yang berwarna kemerahan.
Berdasarkan penyebabnya, urtikaria dapat dibedakan menjadi:
1. heat rash yaitu urtikaria yang disebabkan
panas
2. urtikaria idiopatik yaitu urtikaria yang
belum jelas penyebabnya atau sulit dideteksi
3. cold urtikaria adalah urtikaria yang
disebabkan oleh rangsangan dingin.
4. pressure urtikaria yaitu urtikaria yang
disebabkan rangsangan tekanan
5. contak urtikaria yaitu urtikaria yang
disebabkan oleh alergi
6. aquagenic urtikaria yaitu urtikaria yang
disebabkan oleh rangsangan air
7. solar urtikaria yaitu urtikaria yang
disebabkan sengatan sinar matahari
8. vaskulitik urtikaria
9. cholirgening urtikaria yaitu urtikaria
yang disebabkan panas, latihan berat dan stress
I. EPIDEMOLOGI
Urtikaria
sering dijumpai pada semua umur, orang dewasa lebih banyak mengalami urtikaria
dibanding orang muda. Umur rata-rata penderita urtikaria adalah 35 tahun, dan
jarang dijumpai pada umur kurang dari 10 tahun atau lebih dari 60 tahun.
Beberapa referensi mengatakan urtikaria lebih sering mengenai wanita dibanding
laki-laki yaitu 4:1, namun perbandingan ini bervariasi pada urtikaria yang
lain.
J. PROGNOSIS
Urtikaria akut prognosisnya lebih baik karena
penyebabnya cepat dapat diatasi. Kebanyakan kasus dapat disembuhkan dalam 1-4
hari. Urtikaria kronik lebih sulit diatasi karena penyebabnya sulit dicari. Hal
ini juga tergantung dari penyebab dari urtikaria itu sendiri.
K. PENCEGAHAN
Hindari Penyebab
Tindakan penghindaran akan berhasil bila
penyebab/pencetus terjadinya alergi diketahui. Salah satu cara untuk mengetahui
pencetus alergi ialah dengan melakukan uji kulit (tes alergi). Sayangnya,
penderita terkadang alergi terhadap banyak hal, dan ini tentu sungguh
membutuhkan ketelatenan penderita untuk mengidentifikasinya.
Penyebab alergi yang perlu Anda waspadai:
[+] Makanan. Meliputi susu sapi, telur ayam,
daging ayam, ikan (terutama ikan laut), udang (ebi), kepiting dan
kacang-kacangan (kacang tanah, kacang mede). Sebagai sumber protein pengganti,
dianjurkan untuk mengkonsumsi susu kedelai. Susu kedelai mengandung protein yang
tidak menimbulkan alergi. Kadar asam amino lisinnya tinggi sehingga dapat
digunakan untuk meningkatkan nilai gizi protein pada nasi yang umumnya rendah
kadar lisinnya. Secara umum susu kedelai juga mengandung vitamin B1, B2 dan
niasin dalam jumlah yang setara dengan susu sapi.
[+] Obat-obatan tertentu. Biasanya dari golongan
pereda nyeri (aspirin, antalgin) dan antibiotik (amoksisillin, kotrimoksazol).
[+] Cuaca. Terutama yang terlalu dingin atau
panas. Urtikaria yang disebabkan oleh cuaca dingin biasanya menyerang orang
dewasa muda dan dapat timbul jika udara menjadi semakin dingin. Untuk itu, bila
cuaca dingin, usahakan aktivitas dilakukan di dalam ruangan. Gunakan
masker/penutup hidung untuk mengurangi suhu dingin.
[+] Debu dan polusi. Bersihkan rumah dari debu
secara rutin, terutama kamar tidur dan tempat tidur. Batasi pemakaian karpet di
dalam rumah.
[+] Tekanan dan goresan. Urtikaria yang disebabkan
oleh tekanan biasanya terjadi pada mereka yang menderita dermografisme yang berupa goresan pada kulit. Tekanan akibat
goresan ini juga dapat memicu urtikaria.
[+] Stres. Hindari keadaan yang dapat membuat
stres secara emosional, karena urtikaria juga dapat dipicu oleh faktor
psikologis pasien.
Olahraga Teratur
Penyakit alergi berkaitan erat dengan daya tahan tubuh. Bila
daya tahan tubuh lemah, mudah sekali muncul gejala-gejalanya. Olahraga yang
dianjurkan misalnya berjalan kaki, berenang, bersepeda, berlari dan senam.
L. PENATALAKSANAAN
Sebenarnya pada beberapa kasus urtikaria yang
sifatnya akut tidak perlu adanya pengobatan secara intensif karena urtikaria
pada tahap ini gejalanya tidak berlansung lama dan bisa sembuh sendiri.
Tetapi pada urtikaria kronik bisa di
lakukan pengobatan dengan menggunakan anthihistamin. Obat ini merupakan pilihan
utama adalah penanganan urtikaria.
Menurut www.tempo.co.id/medika/arsip/04200/kas-1htm, ada beberapa tindakan yang harus di
lakukan dalam penangnan urtikaria adalah :
· mencari dan menghindari bahan atau keadaan
yang menyebabkan urtikaria
· untuk menghilangkan rasa gatal dapat di
oleskan sedikit tepung soda bakar yang sudah di campur dengan air atau 1/10
larutan menthol dalam alkohol
M. ASUHAN KEPERAWATAN
A.PENGKAJIAN
Dalam melakukan pengkajian pada klien cystitis menggunakan pendekatan bersifat menyeluruh yaitu :
1.pengumpulan data
I. Biodata
• Identitas klien : nama,umur,jenis kelamin,agama,pendidikan,pekerjaan,tanggal
MRS,tanggal pengkajian,diagnostic medic.
• Identitas penanggung : nama,umur,jenis kelamin,agama,pendidikan,pekerjaan,hubung
An dengan klien.
II. Riwayat kesehatan
• Keluhan utama
Merupakan gambaran yang dirasakan klien sehingga dating ke RS untuk menerima pertolongan dan mendapatkan perawatan serta pengobatan.
• Riwayat kesehatan sekarang
Menguraikan keluhan secara PQRST. Misalnya : pasien (biasanya wanita tua) mungkin melaporkan penurunan kemampuan untuk mengangkat , pasien menyatakan nyeri beberapa lama ,letak nyeri,dll.
• Riwayat kesehatan masa lalu
Merupakan riwayat kesehatan yang berkaitan dengan penyakit sebelumnya dan riwayat pemeriksaan klien.apakah alergi terhadap zat makanan,cuaca,obat-obatan,dsb.
Misalnya pada kasus cystitis yang perlu dikaji yaitu : riwayat menderita infeksi saluran kemih sebelumnya,riwayat pernah menderita batu ginjal ,riwayat penyakit DM, dan jantung.
• Riwayat kesehata keluarga
Memuat riwayat adakah anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama adakah anggota keluarga yang menderita penyakit akut / kronis serta melampirkan genogram klien.
III. Pemeriksaan fisik,meliputi :
1) Keadaan umum
• Keadaan fisik : sedang,ringan,berat
• Tanda-tanda vital : tekanan darah,nadi,suhu,pernafasan
• Tingkat kesadaran : composmentis,apatis,spoor,somnolent
2) Kulit
• Inspeksi : warna kulit dan kebersihan kulit
• Palpasi : suhu,tekstur,kelembaban,apakah ada nyeri tekan, apakah ada mas
sa / benjolan atau apakah ada odema.
3) Kepala
• Inspeksi : apakah penyebaran rambut merata ,apakah ada luka di kepala,apa
Kah kebersihan kulit terjaga.
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan,atau apakah ada massa / benjolan
4) Wajah
• Inspeksi : apakah ada luka di wajah,apakah wajah tampak pucat atau tidak.
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan,apakah ada massa / benjolan.
5) Mata
• Inspeksi : apakah sclera ikterus atau tidak, apakah konjungtiva pucat atau tid
ak ,apakah palpebra oedema atau tidak.
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan,apakah ada massa / benjolan.
6) Hidung
• Inspeksi : apakah ada polip,perdarahan,secret,dan luka
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan,apakah ada massa / benjolan
7) Telinga
• Inspeksi : apakah ada peradangan atau serumen
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan atau apakah ada massa / benjolan
8) Mulut
• Inspeksi : apakah bibir tampak kering atau sariawan
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan
9) Leher
• Inspeksi : apakah ada kelenjar thyroid dan kelenjar limfe
• Palpasi : apakah terjadi pembesaran kelenjar thyroid dan kelenjar limfe
10) ketiak
• Inspeksi : apakah tampak adanya pembesaran kelenjar getah bening
• Palpasi : apakah teraba adanya pembesaran getah bening
11) Dada dan pernapasan
• Inspeksi : bentuk dada normal/abnormal,apakah simetris kiri dan kanan
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan,apakah ada massa/benjolan
• Perkusi : apakah suara paru soror,redup,pekak,atau tympani
• Auskultasi : suara nafas apakah vesikuler atau broncovesikuler,apakah ada sua
ra tambahan,misalnya : roles,ronchi.
12) Jantung
• Inspeksi : untuk mengetahui denyut dinding toraks yaitu ictus cordis pada ve
ntrikel kiri ICS 5 linea clavikularis kiri
• Palpasi : untuk meraba dengan jari II,III,IV yang dirasakan pukulan/ kekuat
an getar dan dapat dihitung frekuensi jantung (HR) selama satu
menit penuh.
• Perkusi : untuk mengetahui batas-batas jantung
• Auskultasi : untuk mendengar bunyi jantung
13) Abdomen
• Inspeksi : apakah ada jaringan parut striase,apakah permukaan abdomen dat
ar ,pengembangan diafragma simetris kiri dan kanan
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan,atau apakah ada massa/benjolan
• Perkusi : apakah ada sura tympani atau tidak
• Auskultasi : apakah ada suara bising usus atau tidak.apakah peristltik ususnya
normal atau tidak.
14) Genetalia dan anus
• Inspeksi : apakah ada benjolan atau tidak
• Palapsi : apakah ada nyeri tekan,apakah ada massa/benjolan
15) Ekstermitas
a. Ekstermitas atas
• Inspeksi : bagaimana pergerakan tangan,dan kekuatan otot
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan,massa/benjolan
• Motorik : untuk mengamati besar dan bentuk otot,melakukan pemeriksaan
tonus kekuatan otot,dan tes keseimbangan.
• Reflex : memulai reflex fisiologi seperti biceps dan triceps
• Sensorik : apakah klien dapat membedakan nyeri, sentuhan,temperature,ra
sa ,gerak dan tekanan.
b. Ekstermitas bawah
• Inspeksi : bagaimana pergerakan kaki,dan kekuatan otot
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan,massa/benjolan
• Motorik : untuk mengamati besar dan bentuk otot,melakukan pemeriksaan
tonus kekuatan otot,dan tes keseimbangan.
• Reflex : memulai reflex fisiologi seperti biceps dan triceps
• Sensorik : apakah klien dapat membedakan nyeri, sentuhan,temperature,ra
sa ,gerak dan tekanan.
IV. Pola kebiasaan sehari-hari
Menurut GORDON ada 11pola kegiatan sehari-hari yang meliputi : kebutuhan nutrisi,kebutuhan cairan,kebutuhan eliminasi,istirahat,personal hygiene,persepsi kognitif,persepsi dan konsep diri,aktivitas dan latihan,kebutuhan seksual,mekanisme koping,kepercayan / keyakinan.adapun data dasar pengkajian pada pasien dengan urtikaria adalah :
- Aktivitas atau istirahat
o Gejala : malaise,perubahan pola tidur
- Sirkulasi
o Tanda : TD normal/sedikit dari jangkauan normal (selama curah jantung
Tetap meningkat) kulit hangat kering,bercahaya,pucat,lembab.
- Eliminasi
o Gejala : -
- Makanan atau cairan
o Gejala :Jarang ditemukan pada pasien anoreksia
o Tanda :Jarang ditemukan pasien dengan keadaan penurunan BB. Penurunan lemak subkutan/massa otot (malnutrisi). Pengeluaran haluaran konsentrasi urine. Perkembangan kearah oliguri, auria.
- Neurosensori
o Gejala :Sakit kepala, pusing, pinsang
o Tanda :Gelisah, ketakutan
- Nyeri/ ketidaknyamanan
o Gejala :Kejang obdominal, lokalisasi rasa sakit, pruritas umum (urtikaria).
- Pernafasan
o Tanda :Takipnea dengan penurunan kedalaman pernafasan, suhu: umumnya meningkat (37,95 C atau lebih), tetapi kadang subnormal.
- Seksualitas
o Gejala :Pruritas perineal
o Tanda :Maserasi vulva, pengeringan vagina purulen.
- Penyuluhan / pembelajaran
o Gejala :Masalah kesehatan kronis/melemahkan, misalnya: hati, ginjal, DM, kecanduan alcohol, penggunaan anti biotic (baru saja atau jangka panjang).
II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman : pruritus berhubungan dengan vasodilatasi subkutan
2. Gangguan citra diri tubuh berhubungan dngan angioedema
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur berhubungan dengan gatal
4. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakitnya
5. Resiko kerusakan jaringan kulit berhubungan dengan vasodilatasi subkutan
III. PERENCANAAN KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman pruriatas berhubungan dengan vosodilatasi subkutan
2. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan angiodema
Tujuan :Agar dapat mengekspresikan perasaan dan masalah yang menyebabkan penurunan citra tubuh
Intervensi :
1. Kaji makna perubahan pada pasien
Rasional :Episode traumatic mengakibatkan perubahan tiba-tiba, tidak diantisipasi, membuat perasaan kehilangan pada perubahan actual/yang dirasakan.ini memerlukan dukungan perbaikan optimal
2. Bersikap realistis dan positif selama pengobatan.Pada penyuluhan kesehatan dan menyusun tujuan dalam keterbatasan
Rasional :Meningkatkan kepercayaan dan mengadakan hubungan antara pasien dengan perawat.
3. Dorong interaksi keluarga dan dengan tim rehabilitas
Rasional :Mempertahankan/membuka garis komunikasi dan memberikan dukungan
4. Berikan kesempatan pada pasien untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Rasional :meringankan beban psikologis klien.
5. HE kepada keluarga pasien tentang bagaimana mereka dapat membantu pasien.
Rasional :Keluarga dapat meningkatkan ventilasi perasaan dan memungkinkan respons yang lebih membantu pasien.
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan gatal.
Tujuan :Pasien menunjukkan kebutuhan istirahat tidur terpenuhi.
Intervensi:
1. Kaji kebiasaan tidur klien sebelum dan selama sakit
Rasional :Untuk mengetahui kebiasaan tidur klien serta gangguan yang dirasakan, dan membantu dalam menentukan intervensi selanjutnya.
2. Beri posisi yang nyaman.
Rasional :Posisi yang nyaman dapat meningkatkan relaksasi sehingga menstimulasi untuk tidur
3 Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman.
Rasional :Lingkungan yang tenang dapat memberikan rasa nyaman sehingga mempermudah klien tidur.
4 .Anjurkan pasien untuk mengkomsumsi makanan/minuman tinggi protein sebelum tidur.
Rasional :Pencernaan protein menghasilkan triptopan yang mempunyai efek sedative
5. Menghindari minuman yang mengandung kafein,pada malam hari.
Rasional :Memudahkan pasien untuk dapat tidur.
4. Anxietas berhubunga dengan kurang pengetahuan tentang penyakitnya.
Tujuan :Pasien akan menunjukkan kecemasan berkurang/ teratasi dengan criteria:
a.Pasien dapat menerima keadaanya
b.Ekspresi wajah rileks
c.Pasien tampak tenang
Intervensi :
1. Observasi tingkat kecemasan pasien.
Rasional :mengetahui sejauh mana kekhwatiran / kecemasan pasien dan pemahaman pasien mengenai penyakitnya.
2. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaanya
Rasional :Mengurangi beban perasaan pasien.
3. Bina hubungan yang baik antara perawat dengan klien.
Rasional :Meningkatkan hubungan terapeutik antara perawat dengan pasien.
4. Beri doronga spiritual.
Rasional :Membantu pasien lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan menerima keadaanya denga ikhlas.
5. HE tentang penyakit yang diderita pasien.
Rasional :Dengan informasi denga baik dapat menurunkan kecemasan pasien.
5 . Resiko kerusakan jaringan kulit berhubungan dengan vasodilatasi subkutan.
Tujuan :Tidak terjadi kerusakan jaringan kulit.
Intervensi :
1. Kaji dan catat keadaan dan warna kulit
Rasional :Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan derajat kerusakan kulit.
2. Pijat kulit dengan lembut.
Rasional :Memperbaiki sirkulasi darah
3. Anjurkan pasien untuk tidak menggaruk.
Rasional :Menghindari kerusakan kulit
4. Kompres atau mandi air hangat dengan mencampurkan koloit Aveeno oatmeal.
Rasional :Dapat mengurangi gatal yang timbul.
Dalam melakukan pengkajian pada klien cystitis menggunakan pendekatan bersifat menyeluruh yaitu :
1.pengumpulan data
I. Biodata
• Identitas klien : nama,umur,jenis kelamin,agama,pendidikan,pekerjaan,tanggal
MRS,tanggal pengkajian,diagnostic medic.
• Identitas penanggung : nama,umur,jenis kelamin,agama,pendidikan,pekerjaan,hubung
An dengan klien.
II. Riwayat kesehatan
• Keluhan utama
Merupakan gambaran yang dirasakan klien sehingga dating ke RS untuk menerima pertolongan dan mendapatkan perawatan serta pengobatan.
• Riwayat kesehatan sekarang
Menguraikan keluhan secara PQRST. Misalnya : pasien (biasanya wanita tua) mungkin melaporkan penurunan kemampuan untuk mengangkat , pasien menyatakan nyeri beberapa lama ,letak nyeri,dll.
• Riwayat kesehatan masa lalu
Merupakan riwayat kesehatan yang berkaitan dengan penyakit sebelumnya dan riwayat pemeriksaan klien.apakah alergi terhadap zat makanan,cuaca,obat-obatan,dsb.
Misalnya pada kasus cystitis yang perlu dikaji yaitu : riwayat menderita infeksi saluran kemih sebelumnya,riwayat pernah menderita batu ginjal ,riwayat penyakit DM, dan jantung.
• Riwayat kesehata keluarga
Memuat riwayat adakah anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama adakah anggota keluarga yang menderita penyakit akut / kronis serta melampirkan genogram klien.
III. Pemeriksaan fisik,meliputi :
1) Keadaan umum
• Keadaan fisik : sedang,ringan,berat
• Tanda-tanda vital : tekanan darah,nadi,suhu,pernafasan
• Tingkat kesadaran : composmentis,apatis,spoor,somnolent
2) Kulit
• Inspeksi : warna kulit dan kebersihan kulit
• Palpasi : suhu,tekstur,kelembaban,apakah ada nyeri tekan, apakah ada mas
sa / benjolan atau apakah ada odema.
3) Kepala
• Inspeksi : apakah penyebaran rambut merata ,apakah ada luka di kepala,apa
Kah kebersihan kulit terjaga.
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan,atau apakah ada massa / benjolan
4) Wajah
• Inspeksi : apakah ada luka di wajah,apakah wajah tampak pucat atau tidak.
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan,apakah ada massa / benjolan.
5) Mata
• Inspeksi : apakah sclera ikterus atau tidak, apakah konjungtiva pucat atau tid
ak ,apakah palpebra oedema atau tidak.
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan,apakah ada massa / benjolan.
6) Hidung
• Inspeksi : apakah ada polip,perdarahan,secret,dan luka
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan,apakah ada massa / benjolan
7) Telinga
• Inspeksi : apakah ada peradangan atau serumen
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan atau apakah ada massa / benjolan
8) Mulut
• Inspeksi : apakah bibir tampak kering atau sariawan
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan
9) Leher
• Inspeksi : apakah ada kelenjar thyroid dan kelenjar limfe
• Palpasi : apakah terjadi pembesaran kelenjar thyroid dan kelenjar limfe
10) ketiak
• Inspeksi : apakah tampak adanya pembesaran kelenjar getah bening
• Palpasi : apakah teraba adanya pembesaran getah bening
11) Dada dan pernapasan
• Inspeksi : bentuk dada normal/abnormal,apakah simetris kiri dan kanan
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan,apakah ada massa/benjolan
• Perkusi : apakah suara paru soror,redup,pekak,atau tympani
• Auskultasi : suara nafas apakah vesikuler atau broncovesikuler,apakah ada sua
ra tambahan,misalnya : roles,ronchi.
12) Jantung
• Inspeksi : untuk mengetahui denyut dinding toraks yaitu ictus cordis pada ve
ntrikel kiri ICS 5 linea clavikularis kiri
• Palpasi : untuk meraba dengan jari II,III,IV yang dirasakan pukulan/ kekuat
an getar dan dapat dihitung frekuensi jantung (HR) selama satu
menit penuh.
• Perkusi : untuk mengetahui batas-batas jantung
• Auskultasi : untuk mendengar bunyi jantung
13) Abdomen
• Inspeksi : apakah ada jaringan parut striase,apakah permukaan abdomen dat
ar ,pengembangan diafragma simetris kiri dan kanan
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan,atau apakah ada massa/benjolan
• Perkusi : apakah ada sura tympani atau tidak
• Auskultasi : apakah ada suara bising usus atau tidak.apakah peristltik ususnya
normal atau tidak.
14) Genetalia dan anus
• Inspeksi : apakah ada benjolan atau tidak
• Palapsi : apakah ada nyeri tekan,apakah ada massa/benjolan
15) Ekstermitas
a. Ekstermitas atas
• Inspeksi : bagaimana pergerakan tangan,dan kekuatan otot
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan,massa/benjolan
• Motorik : untuk mengamati besar dan bentuk otot,melakukan pemeriksaan
tonus kekuatan otot,dan tes keseimbangan.
• Reflex : memulai reflex fisiologi seperti biceps dan triceps
• Sensorik : apakah klien dapat membedakan nyeri, sentuhan,temperature,ra
sa ,gerak dan tekanan.
b. Ekstermitas bawah
• Inspeksi : bagaimana pergerakan kaki,dan kekuatan otot
• Palpasi : apakah ada nyeri tekan,massa/benjolan
• Motorik : untuk mengamati besar dan bentuk otot,melakukan pemeriksaan
tonus kekuatan otot,dan tes keseimbangan.
• Reflex : memulai reflex fisiologi seperti biceps dan triceps
• Sensorik : apakah klien dapat membedakan nyeri, sentuhan,temperature,ra
sa ,gerak dan tekanan.
IV. Pola kebiasaan sehari-hari
Menurut GORDON ada 11pola kegiatan sehari-hari yang meliputi : kebutuhan nutrisi,kebutuhan cairan,kebutuhan eliminasi,istirahat,personal hygiene,persepsi kognitif,persepsi dan konsep diri,aktivitas dan latihan,kebutuhan seksual,mekanisme koping,kepercayan / keyakinan.adapun data dasar pengkajian pada pasien dengan urtikaria adalah :
- Aktivitas atau istirahat
o Gejala : malaise,perubahan pola tidur
- Sirkulasi
o Tanda : TD normal/sedikit dari jangkauan normal (selama curah jantung
Tetap meningkat) kulit hangat kering,bercahaya,pucat,lembab.
- Eliminasi
o Gejala : -
- Makanan atau cairan
o Gejala :Jarang ditemukan pada pasien anoreksia
o Tanda :Jarang ditemukan pasien dengan keadaan penurunan BB. Penurunan lemak subkutan/massa otot (malnutrisi). Pengeluaran haluaran konsentrasi urine. Perkembangan kearah oliguri, auria.
- Neurosensori
o Gejala :Sakit kepala, pusing, pinsang
o Tanda :Gelisah, ketakutan
- Nyeri/ ketidaknyamanan
o Gejala :Kejang obdominal, lokalisasi rasa sakit, pruritas umum (urtikaria).
- Pernafasan
o Tanda :Takipnea dengan penurunan kedalaman pernafasan, suhu: umumnya meningkat (37,95 C atau lebih), tetapi kadang subnormal.
- Seksualitas
o Gejala :Pruritas perineal
o Tanda :Maserasi vulva, pengeringan vagina purulen.
- Penyuluhan / pembelajaran
o Gejala :Masalah kesehatan kronis/melemahkan, misalnya: hati, ginjal, DM, kecanduan alcohol, penggunaan anti biotic (baru saja atau jangka panjang).
II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman : pruritus berhubungan dengan vasodilatasi subkutan
2. Gangguan citra diri tubuh berhubungan dngan angioedema
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur berhubungan dengan gatal
4. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakitnya
5. Resiko kerusakan jaringan kulit berhubungan dengan vasodilatasi subkutan
III. PERENCANAAN KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman pruriatas berhubungan dengan vosodilatasi subkutan
2. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan angiodema
Tujuan :Agar dapat mengekspresikan perasaan dan masalah yang menyebabkan penurunan citra tubuh
Intervensi :
1. Kaji makna perubahan pada pasien
Rasional :Episode traumatic mengakibatkan perubahan tiba-tiba, tidak diantisipasi, membuat perasaan kehilangan pada perubahan actual/yang dirasakan.ini memerlukan dukungan perbaikan optimal
2. Bersikap realistis dan positif selama pengobatan.Pada penyuluhan kesehatan dan menyusun tujuan dalam keterbatasan
Rasional :Meningkatkan kepercayaan dan mengadakan hubungan antara pasien dengan perawat.
3. Dorong interaksi keluarga dan dengan tim rehabilitas
Rasional :Mempertahankan/membuka garis komunikasi dan memberikan dukungan
4. Berikan kesempatan pada pasien untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Rasional :meringankan beban psikologis klien.
5. HE kepada keluarga pasien tentang bagaimana mereka dapat membantu pasien.
Rasional :Keluarga dapat meningkatkan ventilasi perasaan dan memungkinkan respons yang lebih membantu pasien.
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan gatal.
Tujuan :Pasien menunjukkan kebutuhan istirahat tidur terpenuhi.
Intervensi:
1. Kaji kebiasaan tidur klien sebelum dan selama sakit
Rasional :Untuk mengetahui kebiasaan tidur klien serta gangguan yang dirasakan, dan membantu dalam menentukan intervensi selanjutnya.
2. Beri posisi yang nyaman.
Rasional :Posisi yang nyaman dapat meningkatkan relaksasi sehingga menstimulasi untuk tidur
3 Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman.
Rasional :Lingkungan yang tenang dapat memberikan rasa nyaman sehingga mempermudah klien tidur.
4 .Anjurkan pasien untuk mengkomsumsi makanan/minuman tinggi protein sebelum tidur.
Rasional :Pencernaan protein menghasilkan triptopan yang mempunyai efek sedative
5. Menghindari minuman yang mengandung kafein,pada malam hari.
Rasional :Memudahkan pasien untuk dapat tidur.
4. Anxietas berhubunga dengan kurang pengetahuan tentang penyakitnya.
Tujuan :Pasien akan menunjukkan kecemasan berkurang/ teratasi dengan criteria:
a.Pasien dapat menerima keadaanya
b.Ekspresi wajah rileks
c.Pasien tampak tenang
Intervensi :
1. Observasi tingkat kecemasan pasien.
Rasional :mengetahui sejauh mana kekhwatiran / kecemasan pasien dan pemahaman pasien mengenai penyakitnya.
2. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaanya
Rasional :Mengurangi beban perasaan pasien.
3. Bina hubungan yang baik antara perawat dengan klien.
Rasional :Meningkatkan hubungan terapeutik antara perawat dengan pasien.
4. Beri doronga spiritual.
Rasional :Membantu pasien lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan menerima keadaanya denga ikhlas.
5. HE tentang penyakit yang diderita pasien.
Rasional :Dengan informasi denga baik dapat menurunkan kecemasan pasien.
5 . Resiko kerusakan jaringan kulit berhubungan dengan vasodilatasi subkutan.
Tujuan :Tidak terjadi kerusakan jaringan kulit.
Intervensi :
1. Kaji dan catat keadaan dan warna kulit
Rasional :Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan derajat kerusakan kulit.
2. Pijat kulit dengan lembut.
Rasional :Memperbaiki sirkulasi darah
3. Anjurkan pasien untuk tidak menggaruk.
Rasional :Menghindari kerusakan kulit
4. Kompres atau mandi air hangat dengan mencampurkan koloit Aveeno oatmeal.
Rasional :Dapat mengurangi gatal yang timbul.
Urtikaria
Bukan Sekedar Alergi Makanan Biasa

Bila dalam keadaan sehat pengaruh alergi makanan sangat ringan atau bila tidak cermat seperti tanpa gejala. Tetapi hal yang ringan bila tidak dikenali ditambah berbagai faktor resiko dan bila terjadi infeksi virus maka urtikaria baru akan timbul. Sayangnya alergi makanan sebagai penyakit mendasari ini tidak bisa dipastikan dengan tes alergi, karena tes alergi spesifitasnya rendah bila untuk mencari penyebab alergi makanan. Hal inilah yang membuat penanganan urtikaria lebih sulit lagi, khususnya dalam mencari penyebabnya. Pemberian obat jangka panjang adalah bentuk kegagalan mencari penyebabnya. Bila urtikaria ini sudah terjadi jangka panjang maka bila penderita mengalami serangan flu atau infeksi virus ringan saja akan dapat memicu kekambuhannya.
Urtikaria
- Urtikaria merupakan penyakit yang sering ditemukan, diperkirakan 3,2-12,8% dari populasi pernah mengalami urtikaria.
- Urtikaria adalah erupsi pada kulit yang berbatas tegas dan menimbul (bentol), berwarna merah, memutih bila ditekan, dan disertai rasa gatal. Urtikaria dapat berlangsung secara akut, kronik, atau berulang.
- Urtikaria akut biasanya berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari (kurang dari 6 minggu) dan umumnya penyebabnya dapat diketahui. Urtikaria kronik, yaitu urtikaria yang berlangsung lebih dari 6 minggu, dan urtikaria berulang biasanya tidak diketahui pencetusnya dan dapat berlangsung sampai beberapa tahun. Urtikaria kronik umumnya ditemukan pada orang dewasa.
- Urtikaria juga dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologi, yaitu imunologi, anafilaktoid dan penyebab fisik. Reaksi imunologi dapat diperantarai melalui reaksi hipersensitivitas tipe I, tipe II atau III. Sedangkan reaksi anafilaktoid dapat disebabkan oleh angioedema herediter, aspirin, zat yang menyebabkan lepasnya histamin seperti zat kontras, opiat, pelemas otot, obat vasoaktif dan makanan (putih telur, tomat, lobster). Secara fisik, urtikaria dapat berupa dermatografia, cold urticaria, heat urticaria, solar urticaria, pressure urticaria, vibratory angioedema, urtikaria akuagenik dan urtikaria kolinergik.


Urticaria pada penderita dengan infeksi virus
Urticaria

MEKANISME TERJADINYA PENYAKIT
- Pada gangguan urtikaria menunjukkan adanya dilatasi pembuluh darah dermal di bawah kulit dan edema (pembengkakan) dengan sedikit infiltrasi sel perivaskular, di antaranya yang paling dominan adalah eosinofil. Kelainan ini disebabkan oleh mediator yang lepas, terutama histamin, akibat degranulasi sel mast kutan atau subkutan, dan juga leukotrien dapat berperan.
- Histamin akan menyebabkan dilatasi pembuluh darah di bawah kulit sehingga kulit berwarna merah (eritema). Histamin juga menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah sehingga cairan dan sel, terutama eosinofil, keluar dari pembuluh darah dan mengakibatkan pembengkakan kulit lokal. Cairan serta sel yang keluar akan merangsang ujung saraf perifer kulit sehingga timbul rasa gatal. Terjadilah bentol merah yang gatal.
- Bila pembuluh darah yang terangsang
adalah pembuluh darah jaringan subkutan, biasanya jaringan subkutan
longgar, maka edema yang terjadi tidak berbatas tegas dan tidak gatal
karena jaringan subkutan mengandung sedikit ujung saraf perifer, dinamakan
angioedema. Daerah yang terkena biasanya muka (periorbita dan perioral).
Urtikaria disebabkan karena adanya degranulasi sel mast yang dapat terjadi melalui mekanisme imun atau nonimun. - Degranulasi sel mast dikatakan melalui mekanisme imun bila terdapat antigen (alergen) dengan pembentukan antibodi atau sel yang tersensitisasi. Degranulasi sel mast melalui mekanisme imun dapat melalui reaksi hipersensitivitas tipe I atau melalui aktivasi komplemen jalur klasik.
- Faktor infeksi pada tubuh diantaranya infeksi viru (demam, batuk dan pilek) merupakan faktor pemicu pada urtikaria yang paling sering terjadi namun sering diabaikan
- Beberapa macam obat, makanan, atau zat kimia dapat langsung menginduksi degranulasi sel mast. Zat ini dinamakan liberator histamin, contohnya kodein, morfin, polimiksin, zat kimia, tiamin, buah murbei, tomat, dan lain-lain. Masih belum jelas mengapa zat tersebut hanya merangsang degranulasi sel mast pada sebagian orang saja, tidak pada semua orang.
- Faktor fisik seperti cahaya (urtikaria solar), dingin (urtikaria dingin), gesekan atau tekanan (dermografisme), panas (urtikaria panas), dan getaran (vibrasi) dapat langsung menginduksi degranulasi sel mast.
- Latihan jasmani (exercise) pada seseorang dapat pula menimbulkan urtikaria yang dinamakan juga urtikaria kolinergik. Bentuknya khas, kecil-kecil dengan diameter 1-3 mm dan sekitarnya berwarna merah, terdapat di tempat yang berkeringat. Diperkirakan yang memegang peranan adalah asetilkolin yang terbentuk, yang bersifat langsung dapat menginduksi degranulasi sel mast.
- Faktor psikis atau stres pada seseorang dapat juga menimbulkan urtikaria. Bagaimana mekanismenya belum jelas.
- Klinis tampak bentol (plaques edemateus) multipel yang berbatas tegas, berwarna merah dan gatal. Bentol dapat pula berwarna putih di tengah yang dikelilingi warna merah. Warna merah bila ditekan akan memutih. Ukuran tiap lesi bervariasi dari diameter beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter, berbentuk sirkular atau serpiginosa (merambat).
- Tiap lesi akan menghilang setelah 1 sampai 48 jam, tetapi dapat timbul lesi baru.
- Pada dermografisme lesi sering berbentuk linear, pada urtikaria solar lesi terdapat pada bagian tubuh yang terbuka. Pada urtikaria dingin dan panas lesi akan terlihat pada daerah yang terkena dingin atau panas. Lesi urtikaria kolinergik adalah kecil-kecil dengan diameter 1-3 milimeter dikelilingi daerah warna merah dan terdapat di daerah yang berkeringat. Secara klinis urtikaria kadang-kadang disertai angioedema yaitu pembengkakan difus yang tidak gatal dan tidak pitting dengan predileksi di muka, daerah periorbita dan perioral, kadang-kadang di genitalia. Kadang-kadang pembengkakan dapat juga terjadi di faring atau laring sehingga dapat mengancam jiwa.
Selama ini penderita menganggap bahwa penyebab urtikaria adalah udara dingin dan debu. Padahal udara dingin hanya sebagai faktor yang memperberat. Sedangkan debu bisa mengganggu kulit dengan bentuk yang berbeda, bila penyebabnya debu hanya timbul 2-6 jam setelah itu menghilang. Debu sebagai penyebab hanya dalam jumlah banyak seperti rumah yang tidak ditinggali lebih dari seminggu, bila bongkar-bongkar kamar, bila terdapat karpet tebal yang permanen, bila masuk gudang, boneka atau baju yang lama disimpan dallam gudang atau lemari.
Faktor Resiko Yang memperberat Urtikaria :
- INFEKSI (panas, batuk, pilek)
- AKTIFITAS MENINGKAT (menangis, berlari, tertawa keras)
- UDARA DINGIN
- UDARA PANAS
- STRES
- GANGGUAN HORMONAL: (kehamilan, menstruasi)
DIAGNOSIS
- Diagnosis ditegakkan secara klinis
berdasarkan inspeksi kulit yaitu adanya lesi khas berupa bentol berwarna
merah, berbatas tegas, gatal, memutih bila ditekan. Yang sulit adalah
mencari etiologinya.
Untuk menemukan etiologi perlu dilakukan anamnesis yang teliti dan terinci serta pemeriksaan fisis lengkap. Anamnesis terhadap faktor lingkungan seperti debu, tungau debu rumah, binatang peliharaan, tumbuh-tumbuhan, karpet, sengatan binatang, serta faktor makanan termasuk zat warna, zat pengawet, obat-obatan, faktor fisik seperti dingin, panas, cahaya dan sebagainya perlu ditelusuri.
Pemeriksaan fisis yang menunjukkan bentuk khas dapat diduga penyebabnya seperti lesi linear, lesi kecil-kecil di daerah berkeringat, dan lesi hanya pada bagian tubuh yang terbuka. Bila dari anamnesis dan pemeriksaan fisis belum dapat ditegakkan etiologinya, dapat dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang.
Alergi makanan dapat dicurigai ikut berperanan dalam gangguan urtikaria bila terdapat gangguan saluran cerna. Gangguan saluran cerna yang terjadi adalah :
- Pada Bayi : bayi mengalami Gastrooesepageal Refluks, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau. Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
- Pada Anak dan dewasa : Keluhan muntah sejak bayi berkurang tetapi masih ada. Pada usia dewasa masih sering mengalami mudah muntah bila menangis, berlari atau makan banyak atau bila naik kendaran bermotor, pesawat atau kapal. MUAL pagi hari bila hendak gosok gigi atau sedang disuap makanan. Sering Buang Air Besar (BAB) 3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan buang angin bau tajam. Sering NYERI PERUT. Pada penderita dewasa sering megalami gejala penyakit “Maag”.
- Angioedema herediter Kelainan ini merupakan kelainan yang jarang tidak disertai urtikaria. Pada kelainan ini terdapat edema subkutan atau submukosa periodik disertai rasa sakit dan terkadang disertai edema laring. Edema biasanya mengenai ekstremitas dan mukosa gastrointestinalis yang sembuh setelah 1 sampai 4 hari. Pada keluarga terdapat riwayat penyakit yang serupa. Diagnosis ditegakkan dengan menemukan kadar komplemen C4 dan C2 yang menurun dan tidak adanya inhibitor C1-esterase dalam serum.
- Sengatan serangga multipel Pada sengatan serangga akan terlihat titik di tengah bentol, yang merupakan bekas sengatan serangga.

Pressure urticaria

Urticaria pigmentosa (Darier
sign).

Urticaria pigmentosa.


Urticaria pigmentosa.
PENGOBATAN- Pengobatan yang palin utama adalah ditujukan pada penghindaran faktor penyebab dan pengobatan simtomatik.
- Pada urtikaria akut generalisata dan disertai gejala distres pernafasan, asma atau edema laring, mula-mula diberi larutan adrenalin 1% dengan dosis 0,01 ml/kgBB subkutan (maksimum 0,3 ml), dilanjutkan dengan pemberian antihistamin penghambat H1 (lihat bab tentang medikamentosa). Bila belum memadai dapat ditambahkan kortikosteroid.
- Pada urtikaria akut lokalisata cukup dengan antihistamin penghambat H1.
- Urtikaria kronik biasanya lebih sukar diatasi. Idealnya adalah tetap identifikasi dan menghilangkan faktor penyebab, namun hal ini juga sulit dilakukan. Untuk ini selain antihistamin penghambat H1 dapat dicoba menambahkan antihistamin penghambat H2. Kombinasi lain yang dapat diberikan adalah antihistamin penghambat H1 non sedasi dan sedasi (pada malam hari) atau antihistamin penghambat H1 dengan antidepresan trisiklik. Pada kasus berat dapat diberikan antihistamin penghambat H1 dengan kortikosteroid jangka pendek.
- Bila pada penderita terjadi gangguan saluran cerna (seperti gejala yang tersebut di atas) maka sangat mungkin alergi makanan ikut berperanan memperberat gangguan urtikaria yang ada. Untuk menanganinya lakukan eliminasi makanan beresiko (lihat topik mencari penyebab alergi makanan) dalam waktu 3 minggu secara ketat dan dilakukan evaluasi
PROGNOSIS
- Pada umumnya prognosis urtikaria adalah baik, dapat sembuh spontan atau dengan obat.
- Tetapi karena urtikaria merupakan bentuk kutan anafilaksis sistemik, dapat saja terjadi obstruksi jalan nafas karena adanya edema laring atau jaringan sekitarnya, atau anafilaksis sistemik yang dapat mengancam jiwa.
DAFTAR PUSTAKA
- Zuberbier T, Maurer M. Urticaria: current opinions about etiology, diagnosis and therapy. Acta Derm Venereol. 2007;87(3):196-205.
- Irinyi B, Szeles G, Gyimesi E, Tumpek J, Heredi E, Dimitrios G, et al. Clinical and laboratory examinations in the subgroups of chronic urticaria. Int Arch Allergy Immunol. 2007;144(3):217-25.
- Chang S, Carr W. Urticarial vasculitis. Allergy Asthma Proc. Jan-Feb 2007;28(1):97-100.
- Guldbakke KK, Khachemoune A. Etiology, classification, and treatment of urticaria. Cutis. Jan 2007;79(1):41-9.
- Smith PF, Corelli RL. Doxepin in the management of pruritus associated with allergic cutaneous reactions. Ann Pharmacother. May 1997;31(5):633-5.
- Beltrani VS. Urticaria: reassessed. Allergy Asthma Proc. May-Jun 2004;25(3):143-9.
- Pollack CV Jr, Romano TJ. Outpatient management of acute urticaria: the role of prednisone. Ann Emerg Med. Nov 1995;26(5):547-51.
- Powell RJ, Du Toit GL, Siddique N, Leech SC, Dixon TA, Clark AT, et al. BSACI guidelines for the management of chronic urticaria and angio-oedema. Clin Exp Allergy. May 2007;37(5):631-50.
- Kulthanan K, Jiamton S, Thumpimukvatana N, Pinkaew S. Chronic idiopathic urticaria: prevalence and clinical course. J Dermatol. May 2007;34(5):294-301.
- Brown NA, Carter JD. Urticarial vasculitis. Curr Rheumatol Rep. Aug 2007;9(4):312-9.
- Zuberbier T, Bindslev-Jensen C, Canonica W, Grattan CE, Greaves MW, Henz BM, et al. EAACI/GA2LEN/EDF guideline: management of urticaria. Allergy. Mar 2006;61(3):321-31.
- Lin RY, Curry A, Pesola GR, Knight RJ, Lee HS, Bakalchuk L, et al. Improved outcomes in patients with acute allergic syndromes who are treated with combined H1 and H2 antagonists. Ann Emerg Med. Nov 2000;36(5):462-8.
- Jáuregui I, Ferrer M, Montoro J, Dávila I, Bartra J, del Cuvillo A, et al. Antihistamines in the treatment of chronic urticaria. J Investig Allergol Clin Immunol. 2007;17 Suppl 2:41-52.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar